visiting

Jumat, 12 Juli 2013

My story

Awalnya tidak ada yang terlihat. Semua tampak sama. Tidak ada sedikitpun terasa berbeda atau sebaliknya. Seperti buta. Entahlah, apakah memang semuanya dibuat sengaja tidak terlihat, ataukah sang merpati yang membutakan penglihatannya. Tapi semua tampak berbeda saat bisikan angin sedikit menyadarkan sang merpati dari kebutaan semunya. Sedikit demi sedikit semuanya tampak jelas. Walaupun masih ada kabut kelabu yang memburamkan semunya. Sang merpati menyimpulkan bahwa semua yang dia lihat bersama kabut itulah kebenarannya. Kini dia merasa tidak buta lagi. Sang merpati merasa menemukan pasangan hidupnya, dibalik kabut itu. Hembusan angin entah mengapa memberikan sedikit hawa dingin yang menusuk. Mencekam. Tidak seharusnya bukan? Apakan angin mencoba membisikkan sesuatu untuk menyadarkan kembali sang merpati? Tapi bukankah hal ini yang coba ditunjukkan oleh angin? Sang merpati semakin hari merasa semakin memiliki angkasa. Sayapnya ia biarkan terbuka lebar didalam kabut kelabu itu. Bahkan kewaspadaan dan keangkuhan yang dimuliakan telah ia lemparkan seluruhnya keseluruh lindungan kabut kelabu. Sang merpati yang malang. Hujan datang dengan beribu pasukannya. Menyerang angkasa sang merpati dan membawa kabut pergi. Yah, kabut kelabu itu lenyap, hilang dihapus rombongan hujan. Sang merpati terdiam. Sayapnya lemah. Keangkuhan yang selama ini menyelimutinya dengan keanggunan dan keindahan pun sudah ia korbankan demi sesuatu yang semu. Bisikan angin pun tidak datang, bahkan untuk sekedar memberikan pelukan hangat untuk sayap sang merpati. Sekarang merpati yang angkuh hanya seekor burung gereja kecil yang lemah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar