visiting
Minggu, 02 Februari 2014
Dia
Terkadang, kita merasa tertarik dengan seseorang saat pertama kali melihatnya. Kemudian, kesempatan itu datang. Kesempatan untuk mengenal dan menjadi lebih dekat. Namun, rasa tertarik itu seperti musim pancaroba, tidak dapat ditebak. Kadang temperatur naik, sering pula turun drastis. Disinilah faktor-faktor lain berperan. Kepribadian, sikap, dan menghargai. Banyak lagi aspek yang harus diperhatikan dalam menjaga temperatur ketertarikan, tapi tidak sedikit pula rasa tertarik itu membuat segala aspeknya selalu terlihat menarik.
Kamis, 02 Januari 2014
....
E : Aku sayang kamu
O : ...
E : Kamu tau kalau ada didekatmu, rasanya aku tidak menginginkan apapun lagi didunia ini
O : ...
E : Kalau kita menikah, aku akan menjadi wanita paling bahagia didunia ini, pasti!
O : ...
E : Aku rasa aku mulai mencintaimu, kamu harus percaya itu
O : ...
E : Aku tidak minta rumah mewah, mobil, ataupun perhiasan. Asalkan kamu selalu sayang sama aku, semua itu lebih dari sempurna
O : ...
E : Bagaimana menurutmu?
O : ...
E : Kamu juga mencintaiku?
O : Aku lebih nyaman bersama orang lain
E : ...
Virus
Kau tau? Banyak hal yang sebenarnya ingin aku teriakkan di telingamu. Sangat banyak. Tapi semua itu selalu tidak pernah bisa kulakukan saat kau benar-benar ada didepanku. Aku tidak pernah bisa menemukan suaraku saat aku melihat iris coklat itu. Dan suaraku tidak pernah sejalan dengan otakku saat kau berada dekat disebelahku. Pita suaraku kaku. Napasku habis. Dadaku hampa, tidak pernah ada udara disana saat aku mendengar suaramu, bahkan hanya membayangkan mendengarnya. Entah virus apa yang kau suntikkan kedalam otakku, yang jelas pengaruhnya sangat mematikan. Membunuh. Membunuh semua sarafku, membunuh semua persendianku, membunuh otot-ototku, membunuh fungsi semua organ didalam tubuhku. Ya, itu sebuah virus. Virus yang kau sebarkan lewat bahasamu, bahasa tubuhmu, bahasa matamu, bahasa senyummu. Mematikan. Sangat mematikan.
Butuh waktu dan biaya yang sangat mahal untuk melenyapkan virus itu dari tubuhku. Aku harus berjuang dengan seluruh nafas yang masih tersisa yang aku miliki. Mati-matian. Sendirian. Dan kau tau? Sekuat apapun dan sebanyak apapun cara yang aku lakukan, virus itu tidak akan sepenuhnya benar-benar hilang dari tubuhku. Dia seperti parasit. Tumbuh dari rasa rindu, rasa sakit, rasa sedih, dan rasa kecewa yang selalu hinggap didalam tubuhku selama aku masih mengenalmu. Dan kehadiranmu, keberadaanmu, kau tau, itu hanya akan mempercepat kematianku.
Banyak virus yang menjadi anti-virusnya sendiri. Aku yakin kaulah obatku, tapi aku tidak yakin apakah obat itu akan bekerja dalam tibuhku. Menyembuhkan, atau menumbuhkan? Entahlah, tidak semua hal yang direncanakan akan berjalan sama persis dengan yang diinginkan. Bukan terkadang, tapi selalu. Kita harus selalu punya rencana B.
Butuh waktu dan biaya yang sangat mahal untuk melenyapkan virus itu dari tubuhku. Aku harus berjuang dengan seluruh nafas yang masih tersisa yang aku miliki. Mati-matian. Sendirian. Dan kau tau? Sekuat apapun dan sebanyak apapun cara yang aku lakukan, virus itu tidak akan sepenuhnya benar-benar hilang dari tubuhku. Dia seperti parasit. Tumbuh dari rasa rindu, rasa sakit, rasa sedih, dan rasa kecewa yang selalu hinggap didalam tubuhku selama aku masih mengenalmu. Dan kehadiranmu, keberadaanmu, kau tau, itu hanya akan mempercepat kematianku.
Banyak virus yang menjadi anti-virusnya sendiri. Aku yakin kaulah obatku, tapi aku tidak yakin apakah obat itu akan bekerja dalam tibuhku. Menyembuhkan, atau menumbuhkan? Entahlah, tidak semua hal yang direncanakan akan berjalan sama persis dengan yang diinginkan. Bukan terkadang, tapi selalu. Kita harus selalu punya rencana B.
Jumat, 13 Desember 2013
Semusim
Akhirnya naskahku berhasil dipentaskan. Dengan tim yabg kompak dan inspiratif membuat semuanya begitu berharga. Proses 5 minggu yang penuh peluh dan air mata berhasil dilalui dengan menuai kesuksesan yang begitu luar biasa. Selamat yim Semusim 'menanti tanpa musim'. Semoga proses ini memberikan begitu banyak pelajaran dan pengalaman bagi kita semua.
Senin, 30 September 2013
Jumat, 12 Juli 2013
My story
Awalnya tidak ada yang terlihat. Semua tampak sama. Tidak ada sedikitpun terasa berbeda atau sebaliknya. Seperti buta. Entahlah, apakah memang semuanya dibuat sengaja tidak terlihat, ataukah sang merpati yang membutakan penglihatannya. Tapi semua tampak berbeda saat bisikan angin sedikit menyadarkan sang merpati dari kebutaan semunya. Sedikit demi sedikit semuanya tampak jelas. Walaupun masih ada kabut kelabu yang memburamkan semunya. Sang merpati menyimpulkan bahwa semua yang dia lihat bersama kabut itulah kebenarannya. Kini dia merasa tidak buta lagi. Sang merpati merasa menemukan pasangan hidupnya, dibalik kabut itu. Hembusan angin entah mengapa memberikan sedikit hawa dingin yang menusuk. Mencekam. Tidak seharusnya bukan? Apakan angin mencoba membisikkan sesuatu untuk menyadarkan kembali sang merpati? Tapi bukankah hal ini yang coba ditunjukkan oleh angin? Sang merpati semakin hari merasa semakin memiliki angkasa. Sayapnya ia biarkan terbuka lebar didalam kabut kelabu itu. Bahkan kewaspadaan dan keangkuhan yang dimuliakan telah ia lemparkan seluruhnya keseluruh lindungan kabut kelabu. Sang merpati yang malang. Hujan datang dengan beribu pasukannya. Menyerang angkasa sang merpati dan membawa kabut pergi. Yah, kabut kelabu itu lenyap, hilang dihapus rombongan hujan. Sang merpati terdiam. Sayapnya lemah. Keangkuhan yang selama ini menyelimutinya dengan keanggunan dan keindahan pun sudah ia korbankan demi sesuatu yang semu. Bisikan angin pun tidak datang, bahkan untuk sekedar memberikan pelukan hangat untuk sayap sang merpati. Sekarang merpati yang angkuh hanya seekor burung gereja kecil yang lemah.
it is, isn't it?
cinta tidak datang karena kesempurnaan, tapi kesempurnaan akan terlihat oleh cinta.
kesempurnaan tidak selalu mendatangkan cinta, tapi cinta akan membuat semuanya sempurna.
kesempurnaan tidak selalu mendatangkan cinta, tapi cinta akan membuat semuanya sempurna.
do I love you because you are wonderful, or are you wonderful because I love you?
Langganan:
Postingan (Atom)