Apapun yang saat ini sedang aku pikirkan setidaknya sudah lebih baik daripada apa yang masih aku rasakan. Pukulan semalam hingga dini hari masih menyisakan banyak tanya di benakku. Apapun yang saat ini ingin aku katakan masih lebih terbaca daripada apa yang tidak sanggup aku dengarkan. Cerita semalam membuatku merasa sebagai wanita yang cukup jahat. Pertanyaannya adalah apa yang akan aku lakukan setelah ini? Pengakuan dosa sudah terjadi. Ada seorang wanita yang terluka hatinya di luar sana. Dan masih ada seorang lelaki yang terus membungkam mulutnya. Cerita ini salah dari awalnya. Tidak seharusnya kedua tokoh saling dipertemukan dan dikondisikan dalam sebuah kenyamanan. Semakin mereka merasa aman satu sama lain, semakin wanita itu merasa sesak di dadanya. Entah sampai kapan lelaki itu akan terus bungkam dan menutup rapat bibirnya. Kebenaran sudah mulai menampakkan diri. Tidak bisakah ia sekedar memberikan sisa sakitnya kepada wanita itu untuk membuat mereka bisa melanjutkan hubungan kembali? Tidak, bukan dengan pemeran utama, tapi dengan wanita yang tersiksa batinnya. Cerita ini tidak seharusnya pula memiliki sebuah akhir. Apapun yang saat ini sedang terjadi, sudah seharusnya memang tidak ada cerita yang terjadi. Pilihan yang diambil sudah jelas itu benar-benar keinginannya. Apakah aku akan memilih? Aku dan lelaki itu sudah tidak pantas memilih. Terlalu banyak hidup orang tidak bersalah yang sudah kita renggut perasaannya. Aku dan lelaki itu sudah tidak pantas mengaku-ngaku telah jujur dan melakukan kesalahan. Terlalu banyak dosa-dosa yang menyakiti hati orang lain. Wanita itu tidak pernah bersalah kepadaku. Bagaimana bisa seorang manusia yang memiliki nurani melakukan hal menakutkan seperti aku ini? Kecuali aku bukan manusia. Lelaki itu juga jelas bukan manusia. Tidak ada manusia yang menyakiti manusia lainnya untuk memenuhi kepuasan nafsunya belaka.
visiting
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hari Ini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hari Ini. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 Maret 2015
Sabtu, 21 Februari 2015
Ternyata aku rindu
Hari ini aku mendapatkan kesempatan, salah, aku mengambil kesempatan untuk bisa melihatnya. Mendengarkan suaranya di telpon seperti memupuk rasa rinduku yang kurahasiakan dengan susah payah. Aku tidak dapat menemukan rasa terima kasih yang benar-benar pantas untuk diberikan kepada Tuhan hari ini, karena telah memberikan aku dua buah mata yang masih mampu memandangnya hari ini. Sekilas, sesaat, namun aku tidak akan menukar kesempatan itu dengan apapun di dunia ini. Tuhan, kenapa Engkau menciptakan dosa seindah dia? Sehingga aku terlalu terlena untuk menghindar, aku terlalu bersyukur untuk menjauh. Aku tidak pernah percaya bahwa dosa bisa terasa begitu nikmat. Oh Tuhan, aku tau apa yang aku rasakan padanya saat ini bukanlah jalan yang Engkau perbolehkan. Dia telah Engkau pasangkan dengan orang lain, jauh sebelum ia tau akan keberadaanku. Waktu mempertemukan kita dan aku sangat percaya itu semua tidak lepas dari campur tanganMu. Apa yang Engkau rencanakan, Tuhan? Apakah dia hanya bagian dari rencanaMu, ataukah dia yang akan menjadi bagian dari hidupku? Tuhan, aku bukan sosok yang rajin mengingatMu apalagi berdoa kepadaMu, namun aku sangat berterima kasih atas semua kesempatan yang Engkau berikan saat ini. Bertemu dengannya adalah sebuah anugrah yang membuatku percaya bahwa campur tanganMu itu nyata. Tuhan, terima kasih.
Langganan:
Postingan (Atom)