Jangan tanyakan apa mauku saat
ini. Kalaupun aku tau, aku akan mengatakannya sendiri. Semuanya terlalu salah
untuk dibenarkan, namun terlalu benar untuk disalahkan. Aku tidak memiliki
apapun untuk ditawarkan pada mereka, tetapi mereka terus memberikan dunia
padaku. Aku memiliki banyak hutang. Aku memiliki banyak dosa. Aku seseorang
yang meneriakkan idelisme namun aku makhluk yang rapuh, tidak punya pendirian,
dan lemah. Aku idealis, aku visioner, aku independen, dan aku adalah pembohong
besar yang cukup baik. Itu cukup untuk menjelaskan semuanya tentangku. Sekarang
aku terdampar dalam pilihan yang sama sekali tidak bisa kupilih, kecuali
menghilang. Aku ingin pergi jauh dari situasi ini. Lenyap ataupun kembali ke
masa lalu dan tidak pernah menuju jalan yang mengarah pada situasi saat ini.
Aku bebas, tapi tidak saat ini. Bebasku selama ini menyiksa kebebasan orang
lain, dan saat ini aku harus membayar itu semua pada mereka. Jangan tanyakan
apa pilihanku saat ini. Kalaupun aku tau, aku adalah orang pertama yang akan
meneriakkannya ke seluruh dunia. Semuanya terlalu indah untuk ditinggalkan,
namun semua keindahan itulah yang harus aku tanggalkan. Semakin aku mabuk,
semakin aku memasuki ketidaksadaranku. Pastinya itu tidak mengenakkan. Bukan,
bukan untukku, setidaknya bukan untukku saja. Mabukku mencederai orang
sekitarku. Siapa yang merasa mengerti kondisiku saat ini? Perilakuku semakin
liar. Semakin banyak sampah yang mengalir dari mulutku. Menumpuk dan semakin
tinggi, hingga menutupi cahaya dibaliknya. Hati mana saat ini yang bisa
menemukan hatiku dibalik sampah itu? Jangan tanyakan apa yang aku pikirkan saat
ini. Kalaupun aku tau, aku hanya ingin adanya ialah tentang dia.
visiting
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Maret 2015
Dimana....
Laki-laki memang berkepala dua. Maksudku, mereka benar-benar
hanya menggunakan kedua kepalanya. Apa sebegitu hinanya mereka hingga tidak
diciptakan dengan perasaan? Mereka lebih sering membicarakan rasa mereka
menggunakan kepala, kedua kepalanya. Rasa apapun itu, hanya bisa dijelaskan
dengan kepala. Hasyuh! Wanita juga sama bodohnya. Mulut mereka tidak bisa
dipercaya. Terlalu banyak mulut diciptakan untuk wanita sehingga mereka
menyalahgunakannya untuk membicarakan rasa. Sudah tidak jelas lagi hakekat perasaan
yang sesungguhnya saat hanya mulut dan kepala yang digunakan. Mulut, kepala,
rasa. Kepala, mulut, rasa. Kepala, rasa, mulut. Mulut, rasa, kepala. Apapun
itu, semua itu hanya ulah binatang. Dimana akal dan hati? Yang menjadikan
manusia memiliki kedudukan yang tinggi di muka bumi. Semuanya menjadi sama.
Saat reproduksi menjadi hal yang utama.
Minggu, 08 Maret 2015
Notitle
Aku ingin menanyakan sebuah pertanyaan kepada kalian. Pernahkan
kalian melakukan sesuatu yang menyenangkan dan sangat membuat ketergantungan,
sesuatu yang awalnya hanya untuk melepas lara sampai akhirnya menimbulkan dosa,
dan sesuatu yang menguntungkan sampai akhirnya menyedihkan? Aku ingin
memberikan sebuah pernyataan lagi kepada kalian. Aku pernah melakukan sesuatu
yang sangat aku sukai, sangat menyenangkan, dan sangat membuatku
ketergantungan. Aku pernah melakukan sesuatu yang awalnya hanya untuk membuatku
tertawa namun akhirnya menjadi hampa. Aku juga pernah melakukan sesuatu yang
tadinya menguntungkan dan kemudian berubah menjadi sangat menyedihkan. Hei, aku
ingin menanyakan sebuah pertanyaan lagi kepada kalian. Pernahkan kalian mengalamii
jatuh cinta? Atau pernahkan kalian merasa sangat dicintai? Atau pernahkah
kalian merasakan dicintai saat kalian mencintai? Kali ini aku tidak ingin
memberikan pernyataan apapun. Sesuatu seindah dan seistimewa perasaan cinta
sudah aku khianati kesuciannya. Semakin hari aku semakin tidak mengerti apa
maksud cinta sesungguhnya? Lebih sering aku membicarakannya, semakin jauh aku
dari memahami tentangnya. Cinta menjadi terlalu abstrak buatku saat aku dengan
mudah mendapatkannya dari manapun. Cinta begitu beragam. Cinta begitu sempurna
sampai aku tidak mampu memandangnya. Cinta begitu berwarna sehingga membuatku
semakin muak dengannya. Aku lupa bagaimana merasakan cinta yang sesungguhnya. Aku
lupa bagaimana jatuh cinta dan memberikan cinta yang setulusnya. Saat cinta
dipertanyakan dengan kesetiaan dan kejujuran, saat itulah aku tidak ingin
menjadi orang yang setia dan jujur. Saat cinta dipertunjukkan dengan ketulusan
dan kasih sayang, saat itu pulalah aku tidak ingin melakukan semuanya. Semakin aku
dihujani banyak cinta, semakin aku merasakan kehilangannya. Aku tidak
menghindari kehadiran cinta, namun semakin mudah cinta mendekatiku, semakin
mudak pula aku tidak peduli dengan hal itu. Aku bukan orang yang munafik
ataupun kaku, bukan pula bajingan rakus yang tidak tahu diri. Aku bagai orang
yang merasakan kesepian ditengah keramaian. Aku orang yang kehilangan cinta
saat hujan cinta datang.
Label:
Renungan
Sabtu, 14 Februari 2015
Dosa terindahku
Menjadi spesial adalah dambaan setiap perempuan. Diperlakukan istimewa dan menjadi segalanya adalah impian yang sangat nyata. Namun bagaimana apabila beberapa wanita menuntut hal demikian dari satu pria yang sama?
Bukan hal yang salah untuk menaruh ketertarikan kepada lawan jenis. Berawal dari pandangan hingga perbincangan. Bukan hal yang salah pula saat perasaan nyaman dan tenang merambat semakin tinggi saat kebersamaan diciptakan dan terus dipertahankan. Berawal dari kebiasaan yang sama hingga menyamakan kebiasaan. Bukan hal yang salah juga saat kasih dan sayang menjelma dalam bentuk yang begitu indah hingga sangat tidak mungkin untuk menghindarinya. Berawal dari tatapan dalam hingga sentuhan hangat yang mengisyaratkan rasa cinta tak terungkap.
Tapi....
Adalah salah saat ketertarikan itu dijatuhkan kepada hak orang lain. Adalah salah saat perasaan nyaman dan tenang itu ditujukan kepada kepunyaan orang lain. Adalah salah saat kasih dan sayang itu dirasakan untuk milik orang lain.
Bukan....
Bukan salahku karena tertarik padamu. Bukan salahku karena menjadi nyaman bersamamu. Bukan salahku yang semakin sayang dan ingin terus bersamamu. Bukan salahku yang mencintaimu atas apapun yang kumiliki.
Namun....
Bukan pula salahmu yang menyambut rasaku. Bukan pula salahmu yang menciptakan kehangatan saat bersamaku. Bukan pula salahmu yang mengehembuskan kasih dan sayang dengan segala kesederhanaannya. Bukan pula salahmu yang mencintaiku atas cintamu padanya.
Kita....
Kita adalah dua manusia dengan nafsu yang hanya ingin dipuaskan hasratnya. Kita adalah dua manusia yang butuh menyampaikan dan mendapatkan kasih. Kita adalah dua manusia yang saling merasakan cinta dan saling jatuh cinta.
Kau terlalu jauh untukku. Aku terlalu nyata untukmu yang tak terhingga. Kita hanya angan. Kau, dosa terindahku.
Langganan:
Postingan (Atom)