visiting

Senin, 15 Juni 2015

“Keluarga Bahagia”

Pentas Besar KRST tahun 2015 ini mengusung naskah garapan Rasyid Harry dengan lakon “Keluarga Bahagia”. Naskah hasil buah pikir Rasyid dan Iqbal—sebagai sutradara—ini berisi tentang kehidupan sebuah keluarga seperti pada umumnya. Hanya saja, dalam cerita ini, Rasyid mengambil sudut pandang lain dari makna sebuah keluarga. Sebuah keluarga dengan masalah yang mungkin sebenarnya dimiliki oleh beberapa keluarga pada umumnya, namun tidak diutarakan ke publik karena alasan moral dan norma. Yah, begitulah sekiranya salah satu bagian dari informasi yang ingin KRST sampaikan pada penonton melalui pementasan pada hari sabtu, 6 juni 2015 lalu. Pementasan yang dilaksanakan di Stage tari tedjokusumo Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta tersebut membuahkan hasil yang cukup memuaskan, baik untuk penonton maupun Keluarga Besar Rapat Sebuah Teater sendiri.
Sedikit mengulas tentang proses dibalik pementasan “Keluarga Bahagia”, tentu saja yang paling menarik perhatian adalah kesediaan aktor untuk memerankan dan mempertunjukkan isi naskah yang dianggap cukup “vulgar” untuk dihadirkan keatas panggung. Proses seleksi pemain tidak berlangsung mudah, tetapi konsep yang ditawarkan oleh Iqbal akhirnya mampu meyakinkan ke-6 aktor untuk kemudian lanjut memainkan peran yang ditawarkan. Awal berjalannya proses cukup berat. Tidak dipungkiri pula bahkan beberapa panitia penyelenggara sedikit meragukan isi naskah tersebut. Tapi proses tidaklah bermakna tanpa kerikil-kerikil didalamnya. Keberhasilan akan terasa begitu manis ketika berhasil melewati kerikil-kerikil itu. Hal itu pula yang dirasakan oleh KRST, terutama tim “Keluarga Bahagia”.
Proses ini berlangsung kurang lebih 6 bulan, terhitung November 2014. Seluruh kerja keras tim produksi dan artistik tentunya memberikan pengaruh sangat besar dalam keberhasilan pentas besar ke-9 KRST tersebut. Kurang lebih 50 orang yang turut menuangkan tenaga, pikiran, dan semangatnya kedalam proses ini. KRST juga bekerja sama dengan Teater Sangkala, selaku tuan rumah Fakultas Bahasa dan Seni UNY, Sanggar 28 Terkam, ISI Yogyakarta, dan beberapa komunitas kampus serta kerabat KRST. Hal menarik lainnya juga tertuju pada kreativitas yang tertuang pada setting rumah yang dihadirkan oleh sutradara diatas panggung. Begitu realis, begitu meyakinkan, seolah-olah membawa penonton kedalam kehidupan keluarga yang ada dipanggung itu. Detail-detail menarik seperti lukisan, patung kepala, hingga benda kuno seperti gramofon juga tak luput dari perhatian. Pentas ini terbilang berani dan sukses. Mengangkat realitas yang dianggap tabu keatas panggung dan memberikan suguhan yang benar-benar nyata tanpa adanya keraguan sedikitpun, jelas menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi sutradara. Bagi Iqbal—sutradara—naskah “Keluarga Bahagia” ini memiliki begitu banyak makna yang harus disampaikan dan dirasakan, baik untuk semua penonton dan juga dirinya sendiri.
Namun, tentu saja setiap perjalanan menemukan pelajaran. Begitu banyak hal yang dapat diambil dan diperbaiki dalam proses kali ini. Banyak pula nilai-nilai yang bisa ditegakkan yang telah dihadirkan oleh pementasan ini. Semoga saja apapun itu yang telah dihadirkan dan dipersembahkan oleh KRST, dapat menjadi kebaikan tersendiri, yang kemudian hari bisa berbalik dan menyempurnakan diri KRST.
Teruslah belajar, teruslah berusaha, teruslah berkarya. Salam budaya! SHOW MUST GO ON!

(Age, 2015)

Rabu, 25 Maret 2015

Bukan Manusia

Apapun yang saat ini sedang aku pikirkan setidaknya sudah lebih baik daripada apa yang masih aku rasakan. Pukulan semalam hingga dini hari masih menyisakan banyak tanya di benakku. Apapun yang saat ini ingin aku katakan masih lebih terbaca daripada apa yang tidak sanggup aku dengarkan. Cerita semalam membuatku merasa sebagai wanita yang cukup jahat. Pertanyaannya adalah apa yang akan aku lakukan setelah ini? Pengakuan dosa sudah terjadi. Ada seorang wanita yang terluka hatinya di luar sana. Dan masih ada seorang lelaki yang terus membungkam mulutnya. Cerita ini salah dari awalnya. Tidak seharusnya kedua tokoh saling dipertemukan dan dikondisikan dalam sebuah kenyamanan. Semakin mereka merasa aman satu sama lain, semakin wanita itu merasa sesak di dadanya. Entah sampai kapan lelaki itu akan terus bungkam dan menutup rapat bibirnya. Kebenaran sudah mulai menampakkan diri. Tidak bisakah ia sekedar memberikan sisa sakitnya kepada wanita itu untuk membuat mereka bisa melanjutkan hubungan kembali? Tidak, bukan dengan pemeran utama, tapi dengan wanita yang tersiksa batinnya. Cerita ini tidak seharusnya pula memiliki sebuah akhir. Apapun yang saat ini sedang terjadi, sudah seharusnya memang tidak ada cerita yang terjadi. Pilihan yang diambil sudah jelas itu benar-benar keinginannya. Apakah aku akan memilih? Aku dan lelaki itu sudah tidak pantas memilih. Terlalu banyak hidup orang tidak bersalah yang sudah kita renggut perasaannya. Aku dan lelaki itu sudah tidak pantas mengaku-ngaku telah jujur dan melakukan kesalahan. Terlalu banyak dosa-dosa yang menyakiti hati orang lain. Wanita itu tidak pernah bersalah kepadaku. Bagaimana bisa seorang manusia yang memiliki nurani melakukan hal menakutkan seperti aku ini? Kecuali aku bukan manusia. Lelaki itu juga jelas bukan manusia. Tidak ada manusia yang menyakiti manusia lainnya untuk memenuhi kepuasan nafsunya belaka.

Selasa, 17 Maret 2015

Sayang Ada Orang Lain ; Awal dan Mira

Sepotong naskah "Sayang Ada Orang Lain"
"Memang sayang Mini, sayang ada orang lain. Orang lain dengan kebenaran yang berlainan."
Suminta dan Mini. Sosok suami istri yang hidup dalam rumah tangga dengan keterbatasan ekonomi namun dengan kasih sayang yang melimpah. Keadaan demikian membuat Mini berpikir akan merubah keadaan, bersamaan dengan itu Hamid datang dengan tawaran yang menjanjikan, tak pikir lama Mini pun tertarik dan terlibat tanpa sepengetahuan Suminta. Ternyata sikap yang diambil oleh Mini tidak benar menurut Suminta dan H. Salim.
Sepotong naskah "Awal dan Mira"
Seperti biasanya, pengunjung yang datang ke kedai kopi, tiada lain hanya untuk mengagumi kecantikan Mira. Namun, beda halnya dengan Awal, kepribadian Mira lah yang membuat Awal cinta padanya. Awal sama sekali tidak melihat status Mira, namun Mira selalu menghindari cinta Awal. Kegigihan Awal untuk mendapatkan cinta Mira, memberikan pengalaman bagi kita akan perjuangan dalam mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Terlepas dari kepahitan atau kebahagiaan yang kelak dipetik, perjuangan senantiasa membuah sebagain kenyataan yang harus diterima. "Aku bagimu merupakan paduan keindahan surga yang kau mimpikan dan kepahitan dunia yang kau rasakan," tegas Mira pada Awal dipenghujung kepastian mereka.
Naskah milik sastrawan Indonesia, Utuy Tatang Sontani, yang hidup pada zaman koloni dahulu, mencoba menyampaikan bagaimana carut marut yang terjadi pada Tanah Air pada zaman itu. Namun jelas, Utuy mencoba menghandirkannya dalam sebuah drama pementasan yang menarik dan dengan gaya khas miliknya. Teater ESKA menyebutkan alasannya mengangkat kedua naskah ini sebagai Studi Pentas XX mereka, sebab karya tersebut masih relevan dan menemukan momentumnya di tengah-tengah kekacauan politik meski umur Indonesia sudah lebih setengah abad. Sukses untuk Teater ESKA, semoga setiap karya yang disuguhkan mampu membuat semua penontonnya memetik hikmah dan maksud yang ingin disampaikan.

Jangan Tanyakan

Jangan tanyakan apa mauku saat ini. Kalaupun aku tau, aku akan mengatakannya sendiri. Semuanya terlalu salah untuk dibenarkan, namun terlalu benar untuk disalahkan. Aku tidak memiliki apapun untuk ditawarkan pada mereka, tetapi mereka terus memberikan dunia padaku. Aku memiliki banyak hutang. Aku memiliki banyak dosa. Aku seseorang yang meneriakkan idelisme namun aku makhluk yang rapuh, tidak punya pendirian, dan lemah. Aku idealis, aku visioner, aku independen, dan aku adalah pembohong besar yang cukup baik. Itu cukup untuk menjelaskan semuanya tentangku. Sekarang aku terdampar dalam pilihan yang sama sekali tidak bisa kupilih, kecuali menghilang. Aku ingin pergi jauh dari situasi ini. Lenyap ataupun kembali ke masa lalu dan tidak pernah menuju jalan yang mengarah pada situasi saat ini. Aku bebas, tapi tidak saat ini. Bebasku selama ini menyiksa kebebasan orang lain, dan saat ini aku harus membayar itu semua pada mereka. Jangan tanyakan apa pilihanku saat ini. Kalaupun aku tau, aku adalah orang pertama yang akan meneriakkannya ke seluruh dunia. Semuanya terlalu indah untuk ditinggalkan, namun semua keindahan itulah yang harus aku tanggalkan. Semakin aku mabuk, semakin aku memasuki ketidaksadaranku. Pastinya itu tidak mengenakkan. Bukan, bukan untukku, setidaknya bukan untukku saja. Mabukku mencederai orang sekitarku. Siapa yang merasa mengerti kondisiku saat ini? Perilakuku semakin liar. Semakin banyak sampah yang mengalir dari mulutku. Menumpuk dan semakin tinggi, hingga menutupi cahaya dibaliknya. Hati mana saat ini yang bisa menemukan hatiku dibalik sampah itu? Jangan tanyakan apa yang aku pikirkan saat ini. Kalaupun aku tau, aku hanya ingin adanya ialah tentang dia.

Dimana....

Laki-laki memang berkepala dua. Maksudku, mereka benar-benar hanya menggunakan kedua kepalanya. Apa sebegitu hinanya mereka hingga tidak diciptakan dengan perasaan? Mereka lebih sering membicarakan rasa mereka menggunakan kepala, kedua kepalanya. Rasa apapun itu, hanya bisa dijelaskan dengan kepala. Hasyuh! Wanita juga sama bodohnya. Mulut mereka tidak bisa dipercaya. Terlalu banyak mulut diciptakan untuk wanita sehingga mereka menyalahgunakannya untuk membicarakan rasa. Sudah tidak jelas lagi hakekat perasaan yang sesungguhnya saat hanya mulut dan kepala yang digunakan. Mulut, kepala, rasa. Kepala, mulut, rasa. Kepala, rasa, mulut. Mulut, rasa, kepala. Apapun itu, semua itu hanya ulah binatang. Dimana akal dan hati? Yang menjadikan manusia memiliki kedudukan yang tinggi di muka bumi. Semuanya menjadi sama. Saat reproduksi menjadi hal yang utama.

Minggu, 08 Maret 2015

Liburan Seniman

Teater Tangga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta telah dengan sukses mementaskan sebuah naskah karya Usmar Ismail dalam rangka Studi Pentas angkatan 2014 di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta, sabtu 7 Maret 2015 lalu. Pementasan dengan lakon "Liburan Seniman" ini dimainkan oleh 11 orang aktor dengan sangat apik dan menarik. Pementasan yang mengangkat setting tahun 40-an dengan detail properti yang hampir persis berhasil membawa penonton kepada jaman sebelum kemerdekaan dulu. Didukung dengan tata rias dan kostum yang digunakan pemain serta seluruh panitia meyakinkan penonton dan pengunjung tentang keseriusan Teater Tangga dalam penggarapan proses ini. Panitia juga menyarankan penonton untuk datang dengan kostum sesuai tema mereka. Diaula luar, sembari menunggu gerbang dibuka, penonton disajikan hiburan berupa performance musik yang disuguhkan oleh seniman-seniman senior yang memainkan alat-alat musik pada jamannya dulu. Sungguh kematangan konsep yang hampir sempurna. Mengingat kalau pementasan ini baru berupa Studi Pentas, tentulah meninggalkan pertanyaan besar dibenak penonton, "Bagaimana lagi pentas produksinya, kalau studinya saja sudah seperti ini?". Well done, Teater Tangga! Semoga dengan studi pentas ini menelurkan lagi karya-karya hebat dan istimewa untuk kedepannya.

Notitle

Aku ingin menanyakan sebuah pertanyaan kepada kalian. Pernahkan kalian melakukan sesuatu yang menyenangkan dan sangat membuat ketergantungan, sesuatu yang awalnya hanya untuk melepas lara sampai akhirnya menimbulkan dosa, dan sesuatu yang menguntungkan sampai akhirnya menyedihkan? Aku ingin memberikan sebuah pernyataan lagi kepada kalian. Aku pernah melakukan sesuatu yang sangat aku sukai, sangat menyenangkan, dan sangat membuatku ketergantungan. Aku pernah melakukan sesuatu yang awalnya hanya untuk membuatku tertawa namun akhirnya menjadi hampa. Aku juga pernah melakukan sesuatu yang tadinya menguntungkan dan kemudian berubah menjadi sangat menyedihkan. Hei, aku ingin menanyakan sebuah pertanyaan lagi kepada kalian. Pernahkan kalian mengalamii jatuh cinta? Atau pernahkan kalian merasa sangat dicintai? Atau pernahkah kalian merasakan dicintai saat kalian mencintai? Kali ini aku tidak ingin memberikan pernyataan apapun. Sesuatu seindah dan seistimewa perasaan cinta sudah aku khianati kesuciannya. Semakin hari aku semakin tidak mengerti apa maksud cinta sesungguhnya? Lebih sering aku membicarakannya, semakin jauh aku dari memahami tentangnya. Cinta menjadi terlalu abstrak buatku saat aku dengan mudah mendapatkannya dari manapun. Cinta begitu beragam. Cinta begitu sempurna sampai aku tidak mampu memandangnya. Cinta begitu berwarna sehingga membuatku semakin muak dengannya. Aku lupa bagaimana merasakan cinta yang sesungguhnya. Aku lupa bagaimana jatuh cinta dan memberikan cinta yang setulusnya. Saat cinta dipertanyakan dengan kesetiaan dan kejujuran, saat itulah aku tidak ingin menjadi orang yang setia dan jujur. Saat cinta dipertunjukkan dengan ketulusan dan kasih sayang, saat itu pulalah aku tidak ingin melakukan semuanya. Semakin aku dihujani banyak cinta, semakin aku merasakan kehilangannya. Aku tidak menghindari kehadiran cinta, namun semakin mudah cinta mendekatiku, semakin mudak pula aku tidak peduli dengan hal itu. Aku bukan orang yang munafik ataupun kaku, bukan pula bajingan rakus yang tidak tahu diri. Aku bagai orang yang merasakan kesepian ditengah keramaian. Aku orang yang kehilangan cinta saat hujan cinta datang.

Rabu, 25 Februari 2015

Matahari 1/2 Mati

Teater Sangkala FBS UNY mempersembahkan pementasan dalam rangka Pentas Studi anggota tahun 2014. Sebuah pementasan yang mengangkat lakon "Matahari 1/2 Mati" ini dihadirkan dengan latar dan set yang sangat apik dan menarik. Permainan lampu yang sesuai dan alunan musik yang berpadu sangat pantas dengan permainan aktor diatas panggung. Sepanjang jalannya pementasan, penonton dibuai dengan jalan cerita dan permainan-permainan segar yang memukau. Diakhiri dengan tepuk tangan meriah berhasil menghantarkan pementasan "Matahari 1/2 Mati" pada kepuasan bagi pengunjung Laboratorium Karawitan malam itu (25/02).

Sabtu, 21 Februari 2015

Ternyata aku rindu

Hari ini aku mendapatkan kesempatan, salah, aku mengambil kesempatan untuk bisa melihatnya. Mendengarkan suaranya di telpon seperti memupuk rasa rinduku yang kurahasiakan dengan susah payah. Aku tidak dapat menemukan rasa terima kasih yang benar-benar pantas untuk diberikan kepada Tuhan hari ini, karena telah memberikan aku dua buah mata yang masih mampu memandangnya hari ini. Sekilas, sesaat, namun aku tidak akan menukar kesempatan itu dengan apapun di dunia ini. Tuhan, kenapa Engkau menciptakan dosa seindah dia? Sehingga aku terlalu terlena untuk menghindar, aku terlalu bersyukur untuk menjauh. Aku tidak pernah percaya bahwa dosa bisa terasa begitu nikmat. Oh Tuhan, aku tau apa yang aku rasakan padanya saat ini bukanlah jalan yang Engkau perbolehkan. Dia telah Engkau pasangkan dengan orang lain, jauh sebelum ia tau akan keberadaanku. Waktu mempertemukan kita dan aku sangat percaya itu semua tidak lepas dari campur tanganMu. Apa yang Engkau rencanakan, Tuhan? Apakah dia hanya bagian dari rencanaMu, ataukah dia yang akan menjadi bagian dari hidupku? Tuhan, aku bukan sosok yang rajin mengingatMu apalagi berdoa kepadaMu, namun aku sangat berterima kasih atas semua kesempatan yang Engkau berikan saat ini. Bertemu dengannya adalah sebuah anugrah yang membuatku percaya bahwa campur tanganMu itu nyata. Tuhan, terima kasih.

Rabu, 18 Februari 2015

Merindukan Saat

Waktu menunjukkan angan melampaui nyata
Terkadang membuatku mengira semua ini realita
Ah, tidak mungkin lah
Apa dosaku sehingga menerima keindahan malaikat sepertimu
Tidak berani sesuatupun melintasi beranda anganku menembus pintu dunia
Namun semakin ku nyalakan gelap terang bayangmu, semakin menimang-nimang impianku melayang
Bagaimana aku memghentikan keraguan ini ditengah kesempurnaan yang kau tawarkan
Aku terlalu bahagia untuk menolak kenikmatan dosa kita
Tidak apalah, biatkan begini saja hingga raga dimakan usia

Selasa, 17 Februari 2015

Kita Mahasiswa

Kita mahasiswa, yang berbicara berdasarkan fakta.
Kita mahasiswa, yang bertindak berdasarkan realita.
Kita mahasiswa, yang berpikir berdasarkan data yang ada.
Kita mahasiswa, yang bergerak berdasarkan apa yang nyata.

Kita mahasiswa, bukan yang berperilaku sesukanya.
Kita mahasiswa, bukan yang berkata tidak berbudaya.
Kita mahasiswa, bukan yang berperilaku tanpa tata krama.
Kita mahasiswa, bukan yang berjanji penuh tanda tanya.

Sabtu, 14 Februari 2015

Dosa terindahku

Menjadi spesial adalah dambaan setiap perempuan. Diperlakukan istimewa dan menjadi segalanya adalah impian yang sangat nyata. Namun bagaimana apabila beberapa wanita menuntut hal demikian dari satu pria yang sama?
Bukan hal yang salah untuk menaruh ketertarikan kepada lawan jenis. Berawal dari pandangan hingga perbincangan. Bukan hal yang salah pula saat perasaan nyaman dan tenang merambat semakin tinggi saat kebersamaan diciptakan dan terus dipertahankan. Berawal dari kebiasaan yang sama hingga menyamakan kebiasaan. Bukan hal yang salah juga saat kasih dan sayang menjelma dalam bentuk yang begitu indah hingga sangat tidak mungkin untuk menghindarinya. Berawal dari tatapan dalam hingga sentuhan hangat yang mengisyaratkan rasa cinta tak terungkap.
Tapi....
Adalah salah saat ketertarikan itu dijatuhkan kepada hak orang lain. Adalah salah saat perasaan nyaman dan tenang itu ditujukan kepada kepunyaan orang lain. Adalah salah saat kasih dan sayang itu dirasakan untuk milik orang lain.
Bukan....
Bukan salahku karena tertarik padamu. Bukan salahku karena menjadi nyaman bersamamu. Bukan salahku yang semakin sayang dan ingin terus bersamamu. Bukan salahku yang mencintaimu atas apapun yang kumiliki.
Namun....
Bukan pula salahmu yang menyambut rasaku. Bukan pula salahmu yang menciptakan kehangatan saat bersamaku. Bukan pula salahmu yang mengehembuskan kasih dan sayang dengan segala kesederhanaannya. Bukan pula salahmu yang mencintaiku atas cintamu padanya.
Kita....
Kita adalah dua manusia dengan nafsu yang hanya ingin dipuaskan hasratnya. Kita adalah dua manusia yang butuh menyampaikan dan mendapatkan kasih. Kita adalah dua manusia yang saling merasakan cinta dan saling jatuh cinta.
Kau terlalu jauh untukku. Aku terlalu nyata untukmu yang tak terhingga. Kita hanya angan. Kau, dosa terindahku.

Jumat, 18 April 2014

Kutumpahkan seluruh hidupku...

Cinta. Itukah satu-satunya yang kita butuhkan didunia ini? Apakah hanya dengan mendapatkan cinta kita bisa bahagia? Apakah akan begitu sengsara saat seseorang hanya bisa mencintai tanpa sebaliknya? Apakah cinta benar-benar tentang member dan menerima? Apa hakikat cinta yang sebenarnya? Adakah teori tentang cinta yang benar-benar bisa kita terima dengan kedua akal dan perasaan?
Saya wanita berusia 20 tahun. Saat ini saya menjalani sebuah, yah, tidak bisa saya bilang sebuah hubungan namun kami menjalani ‘sesuatu’ yang biasa dialami oleh orang yang mengklaim diri mereka berpacaran. Pria ini sebut saja X. saya dan  dekat sejak akhir 2012. Hingga saat ini kami masih berhubungan. Untuk informasi, tidak ada hubungan apapun antara saya dan X. apapun. Tidak ikatan, tidak perjanjian, tidak komitmen. Tidak apapun. Namun sama mencintai X. ntahlah, setidaknya saya ingin menggunakan kata itu untuk saat ini. X bukan pria yang biasa menunjukkan bagaimana perasaannya kepada orang lain, apalagi tentang saya. Selama hampir 2 tahun ini, hanya orang-orang terdekat saya yang tahu antara saya dan X. hanya sahabat-sahabat saya yang tahu apa saja yang terjadi antara saya dan X. semua itu berlangsung begitu saja. Saya menjad seseorang yang beda, setidaknya begitulah pengakuan dari sahabat saya. Saya bisa lebih bersabar dan menerima apa saja yang diberikan kepada saya, mungkin bisa dibilang apa yang saya bisa dapat. X tipe orang yang sangat tertutup, independen, dank eras. Percayalah semua yang saya tulis ini benar-benar tentang apa yang saya alami dan saya rasakan. Tidak ada keuntungan apapun untuk memanipulasi hal-hal diatas.
Beberapa waktu lalu, saat saya merasa sudah saatnya saya menyerah dengan kondisi seperti ini, muncullah seorang pria lainnya. Saya akan sebut dia Y. Y datang dengan semua hal yang saya ingin dapatkan dari seorang pria, yah yang mengaku menyayangi saya. Disini saya sadar kalau saya benar-benar menjadi seseorang yang berbeda. Dulu, siapapun orang yang bisa memberikan apapun yang saya butuhkan, yang tidak saya dapatkan dari seseorang yang saya inginkan, saya akan begitu mudah move on, ya itu kalimat remaja kini. Tapi tidak dengan yang saya alami saat ini. Saya dan Y bisa sempat berpacaran selama—kurang lebih—3 hari, dan saya memutuskan untuk menghentikannya sebelum terlambat. Saya mengaku bahwa saya masih merasakan sesuatu yang biasa terhadap Y, tidak seperti yang saya rasakan pada X. 3 hari masa percobaan itu, hanya rasa bersalah yang saya rasakan. Apapun yang Y lakukan pada saya, apapun yang Y berikan, dan apapun yang saya dapatkan dari Y, semua itu tidak secuilpun menggeser apa yang saya rasakan pada X. Saat ini saya benar-benar merasa tidak mengenal siapa saya. Apa saya benar-benar jatuh cinta? Tapi bagaimana?
Sekarang saya tahu mengapa tidak pernah ada alas an untuk seseorang jatuh cinta. Ketahuilah, saat seseorang berkata dia jatuh cinta dan memberikan alas an setelahnya, dia tidak benar-benar merasakan cinta. Dia hanya berpikir kalau dia jatuh cinta. Ingatlah bahwa cinta itu bukan sesuatu yang dipikirkan, namun dirasakan. Memang sulit dan kita harus benar-benar teliti untuk menerka cinta. Saya tidak akan mengangkat teori apapun tentang cinta ataupun membahas cinta. Maslow dan Sternberg boleh saja berkoar banyak tentang cinta menurut mereka, tapi disini saya berteriak semua hal tentang cinta menurut fakta yang saya alami. Setiap orang berhak mengklaim teori mereka sendiri. Percayalah. Tidak ada teori yang benar-benar bisa mendeskripsikan cinta secara universal. Karena cinta itu hanya bisa dirasakan.
Sekarang kembali ke paragraph awal.
“Cinta. Itukah satu-satunya yang kita butuhkan didunia ini? Apakah hanya dengan mendapatkan cinta kita bisa bahagia? Apakah akan begitu sengsara saat seseorang hanya bisa mencintai tanpa sebaliknya? Apakah cinta benar-benar tentang memberi dan menerima? Apa hakikat cinta yang sebenarnya? Adakah teori tentang cinta yang benar-benar bisa kita terima dengan kedua akal dan perasaan?”

Apakah cinta satu-satunya yang dibutuhkan? Tidak. Apakah hanya dengan mendapatkan cinta bisa bahagia? Tidak. Apakah akan sengsara apabila hanya mencinta? Tidak. Apakah cinta tentang memberi dan menerima semata? Tidak. Adakah teori cinta yang benar-benar bisa diterima akal dan perasaan? Tidak. Apa hakikat cinta sebenarnya? Tidak ada. Yah, memang setidak jelas itu apabila kita membicarakan tentang cinta dan cinta. Apakah ibu memiliki alas an untuk mencintai kita? Karena kita anaknya? Karena kita darah dagingnya? Karena kita dari rahimnya? Karena kita titipan Tuhan? Tidak. Beliau mencintai kita karena beliau ingin mencintai kita. Tanpa alasan apapun. Alasan hanyalah sesuatu yang bertugas membawa semua pergi bersamanya. Saat tidak ada alasan, kita tidak tau apa yang pernah kita rasakan, lakukan, dan berikan. Cinta tidak memilih dan dipilih. Cinta tidak menilai dan dinilai. Cinta tidak menerima dan diterima. Tapi cinta adalah cinta. Cinta itu tentang cinta. Cinta hanyalah cinta, tidak bersama apapun.

This is my opinion, what's yours?

Dalam kenyataannya, seringkali kita menilai apa yang kita lakukan dan membandingkannya dengan apa yang terjadi pada orang lain. Keberhasilan diukur dengan perbandingan keberhasilan orang lain, kesuksesan diukur dengan perbandingan kesuksesan orang lain, bahkan kegagalan dan kehancuran juga sering dilihat dari sejauh mana orang lain menyelesaikan kewajibannya. Tapi sesungguhnya, pernahkah kita berpikir dan mencoba menyadari bahwa setiap manusia punya perbedaan yang sangat bisa diubah untuk disamakan? Oke, mungkin bahasa saya terlalu berbelit. Begini contohnya, seorang mahasiswa (X) yang menempuh pendidikan S1 Psikologi mengukur tingkat kegagalannya dengan perbandingan nilai yang diperoleh oleh temannya (Y). Padahal mereka memiliki kesibukan yang sama, waktu yang sama, dan pendidikan yang sama. Dimana perbedaannya? YUP! Komitmen. Sejauh mana komitmen kita terhadap diri sendiri itulah yang bisa mengubah sebuah perbedaan. Setiap orang yang ingin berhasil, harus memiliki komitmen terhadap apa yang dia jalankan, minimal kepada dirinya sendiri. Kita lihat mahasiswa ini, apa dia memaksimalkan setiap detik waktunya dengan baik? Mungkin temannya (Y) memang lebih cerdas sehingga masih lebih mudah mendapatkan nilai tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Itu perbedaan. Jika X memiliki komitmen lebih tinggi dari Y, dia bisa saja menutupi setiap perbedaannya dengan menyamakan hasil yang diperoleh. Itu persamaan. Menurut Galileo Galilei, RUMPUT YANG PALING KUAT, TUMBUHNYA DIATAS TANAH YANG PALING KERAS. Keberhasilan yang paling besar, didapat dari seseorang yang paling hebat, itu menurut saya. Kita bisa memilih, mau hebat untuk dan karena orang lain, atau hebat untuk dan karena diri sendiri. That's my opinion, what's yours?

Senin, 17 Maret 2014

Muhammad Ibrahim Patawari

Dia orang yang aku kenal beberapa bulan yang lalu. Kita bukan orang yang sudah saling dekat ataupun bekerja bersama. hanya saja, tanpa sengaja kita dalam suatu proyek yang sama. Beberapa hari yang lalu dia mulai menghubungiku via BBM, setelah beberapa lama kita saling bertukar PIN. Hahaha alay maksimal kan aku?

Minggu, 02 Februari 2014

Dia

Terkadang, kita merasa tertarik dengan seseorang saat pertama kali melihatnya. Kemudian, kesempatan itu datang. Kesempatan untuk mengenal dan menjadi lebih dekat. Namun, rasa tertarik itu seperti musim pancaroba, tidak dapat ditebak. Kadang temperatur naik, sering pula turun drastis. Disinilah faktor-faktor lain berperan. Kepribadian, sikap, dan menghargai. Banyak lagi aspek yang harus diperhatikan dalam menjaga temperatur ketertarikan, tapi tidak sedikit pula rasa tertarik itu membuat segala aspeknya selalu terlihat menarik.

Kamis, 02 Januari 2014

....

E : Aku sayang kamu

O : ...

E : Kamu tau kalau ada didekatmu, rasanya aku tidak menginginkan apapun lagi didunia ini

O : ...

E : Kalau kita menikah, aku akan menjadi wanita paling bahagia didunia ini, pasti!

O : ...

E : Aku rasa aku mulai mencintaimu, kamu harus percaya itu

O : ...

E : Aku tidak minta rumah mewah, mobil, ataupun perhiasan. Asalkan kamu selalu sayang sama aku, semua itu lebih dari sempurna

O : ...

E : Bagaimana menurutmu?

O : ...

E : Kamu juga mencintaiku?

O : Aku lebih nyaman bersama orang lain

E : ...

Virus

Kau tau? Banyak hal yang sebenarnya ingin aku teriakkan di telingamu. Sangat banyak. Tapi semua itu selalu tidak pernah bisa kulakukan saat kau benar-benar ada didepanku. Aku tidak pernah bisa menemukan suaraku saat aku melihat iris coklat itu. Dan suaraku tidak pernah sejalan dengan otakku saat kau berada dekat disebelahku. Pita suaraku kaku. Napasku habis. Dadaku hampa, tidak pernah ada udara disana saat aku mendengar suaramu, bahkan hanya membayangkan mendengarnya. Entah virus apa yang kau suntikkan kedalam otakku, yang jelas pengaruhnya sangat mematikan. Membunuh. Membunuh semua sarafku, membunuh semua persendianku, membunuh otot-ototku, membunuh fungsi semua organ didalam tubuhku. Ya, itu sebuah virus. Virus yang kau sebarkan lewat bahasamu, bahasa tubuhmu, bahasa matamu, bahasa senyummu. Mematikan. Sangat mematikan.
Butuh waktu dan biaya yang sangat mahal untuk melenyapkan virus itu dari tubuhku. Aku harus berjuang dengan seluruh nafas yang masih tersisa yang aku miliki. Mati-matian. Sendirian. Dan kau tau? Sekuat apapun dan sebanyak apapun cara yang aku lakukan, virus itu tidak akan sepenuhnya benar-benar hilang dari tubuhku. Dia seperti parasit. Tumbuh dari rasa rindu, rasa sakit, rasa sedih, dan rasa kecewa yang selalu hinggap didalam tubuhku selama aku masih mengenalmu. Dan kehadiranmu, keberadaanmu, kau tau, itu hanya akan mempercepat kematianku.
Banyak virus yang menjadi anti-virusnya sendiri. Aku yakin kaulah obatku, tapi aku tidak yakin apakah obat itu akan bekerja dalam tibuhku. Menyembuhkan, atau menumbuhkan? Entahlah, tidak semua hal yang direncanakan akan berjalan sama persis dengan yang diinginkan. Bukan terkadang, tapi selalu. Kita harus selalu punya rencana B.

Jumat, 13 Desember 2013

Semusim

Akhirnya naskahku berhasil dipentaskan. Dengan tim yabg kompak dan inspiratif membuat semuanya begitu berharga. Proses 5 minggu yang penuh peluh dan air mata berhasil dilalui dengan menuai kesuksesan yang begitu luar biasa. Selamat yim Semusim 'menanti tanpa musim'. Semoga proses ini memberikan begitu banyak pelajaran dan pengalaman bagi kita semua.